Quote

""It does not matter how slow you go so long as you do not stop."
- Wisdom of Confucius"

-
Audio

Just Older

Bon Jovi 

Photo Set

Save a Teen Concert with @agnezmo and @citrascholas

promote by : @eitsproductions

Text

http://www.detiknews.com/read/2011/11/24/091039/1774421/471/pahlawan-dan-sepakbola

Jakarta - Tanggal sepuluh November kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah usai mengumumkan tujuh nama yang berhak menyandang gelar pahlawan nasional.

 

Adapun nama-nama tersebut adalah; Syafruddin Prawiranegara, KH Idham Chalid, Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan Buya Hamka, Ki Sarmidi Mangunsarkoro, I Gusti Ketut Pudja, Sri Susuhunan Paku Buwono X dan Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono.

 

Lantas apakah nama-nama itu memberikan pengaruh pada prilaku kita sehari-hari?

 

Ironi. Mereka, para pejuang yang disematkan sebagai pahlawan karena memiliki nilai yang begitu besar untuk diteladani bangsa Indonesia, tak lebih merupakan ritual simbolik negara dan masyarakatnya. Hari-hari itu selalu terlewat begitu saja tanpa penghayatan. Ia seperti tidak lagi memberikan inspirasi atas kelanjutan eksistensi bangsa ini di mata dunia.

 

Indikasi ini disimpulkan dengan semakin merajalelanya korupsi di negeri kita. Perjuangan mencapai kemerdekaan yang dideklarasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan mempertahankan legitimasinya di mata dunia—ketika agresi Belanda kembali dilakukan—oleh generasi kita sekarang, seolah memberikan arti bahwa perjuangan bangsa Indonesia telah berakhir.

 

Usaha yang dilakukan presiden SBY baru-baru ini dalam KTT ASEAN ke-19 dan KTT Asia Timur, cukup diberikan apresiasi. Ia bukan saja mampu mengangkat nama Indonesia, tetapi juga mampu mengkonsolidasikan kekuatan asia dalam percaturan global.

 

Namun usaha ini juga bukan tidak menjadi bomerang, jika dalam sektor real masyarakat menengah kecil Indonesia tidak diimbangi dengan penguasaan Corporate modal yang mapan. Setidaknya kita malah akan menjadi buruh dan semakin terjajah dengan hadirnya ASEAN Community tersebut.

 

Nilai Abadi Yang Tersimpan Pada Jiwa

 

Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kata pahlawan sangat identik disematkan kepada seseorang atas usahanya dalam memperjuangkan/ mempertahankan kemerdekaan.

 

Perihal itu diatur secara detail dalam UU nomor 20 Tahun 2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan—juga Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2010. Dan hingga kini negara sudah memberikan 154 gelar pahlawan nasional kepada orang-orang yang dianggap berjasa atas NKRI.

 

Karena itu kata pahlawan muncul dari sebuah proses perjalanan yang panjang. Ia adalah bentuk eksistensi dari usaha yang dilakukan secara terus menerus tanpa lelah. Ia adalah pengorbanan lahir batin—baik dilakukan secara kolektif maupun indifidu-indifidu untuk sebuah tujuan dan cita-cita bersama yaitu; kemerdekaan Indonesia.

 

Kehilangan Makna

 

Hakikatnya kata pahlawan itu disematkan kepada siapapun, sebagai bentuk penghargaan atas pencapaian yang telah dilakukankan. Kata pahlawan memiliki makna dan nilai dalam ruang lingkup perjuangannya masing-masing. Kita juga berhak menyemat dan disematkan kata pahlawan. Sebab kata pahlawan adalah hak dari dan atas diri kita. Nilai abadi dari perjuangan yang tertanam dalam tiap-tiap jiwa.

 

Pahlawan, kata itu kini seperti sudah kehilangan makna. Pemaknaannya terus digerus oleh jaman. Sedangkan kata perjuangan yang menjadi ruh atas setiap sikap dan tindakan dari hakikat terciptanya kata pahlawan itu sendiri, tidak lagi memiliki daya tarik pada nafas kehidupan sekarang. Kita terlalu muda menyerah. Kita sudah terlalu puas dengan hasil.

 

Dalam kehidupan sekarang kata pahlawan memiliki ruang yang begitu luas untuk diperoleh. Sebab kata itu “mudah” kita dapatkan dalam bidang apapun. Terlebih lagi kita tidak harus mengorbankan nyawa seperti apa yang dilakukan para pejuang kemerdekaan dulu. Ambil contoh dunia olah raga. Kata pahlawan (meski bukan gelar pahlawan nasional yang diberikan Negara) akan melekat pada pratisinya, ketika mereka mampu memberikan prestasi dikancah Internasional.

 

Sepak Bola

 

Sepak bola. Di belahan dunia manapun olah raga ini begitu digemari. Beragam pemaknaan tertuang pada masyarakatnya. Dalam piala dunia, masyarakat Argentina, selalu merayakan kemenangan yang luar biasa ketika tim nasional mereka mampu mengalahkan tim Inggris. Mereka menganggap kemenangan itu sebagai tropy tertinggi dan paling istimewa.

 

Bahkan melebihi tropy piala dunia itu sendiri. Sebab mereka memaknai kemenangan itu sebagai pengobat (pembalasan) kekalahan perang Malvinas atau Perang Kepulauan Falkland, atas Inggris. Sebuah pertempuran laut paling besar dan paling panjang sejak perang Pasifik di masa Perang Dunia II.

 

Nasib Sepak Bola Kita

 

Di negeri kita juga demikian. Masyarakat begitu menggemari olah raga ini. Dalam seluruh perhelatan cabang olah raga Sea Games kemarin, hanya sepak bola yang begitu bergelora disambut. Puluhan ribu masyarakat Indonesia berduyun-duyun datang ke Gelora Bung Karno untuk memberikan dukungan langsung.

 

Bahkan tidak sedikit mereka datang dari berbagai penjuru Nusantara. Mengeluarkan kocek pribadi demi tim Garuda. Dan ratusan juta mata tertuju pada televisi. Dari pusat kota sampai pelosok desa.

 

Dari Sabang sampai Merouke, masyarakat kita memberikan dukungan dan harapan. Saking besarnya dukungan ini, sepak bola mampu menjadi manifestasi dari sila ketiga dalam Pancasila; Persatuan Indonesia. Dimana Suku, Agama, Ras, dan Antar Kelompok bersatu-padu meneriaki yell-yell yang sama, yaitu; Indonesia! Indonesia! Indonesia!

 

Sayangnya dukungan ini belum mampu dipenuhi tim kita. Lagi-lagi tim Garuda selalu gagal memenuhi harapan bangsa Indonesia dalam setiap perhelatan Internasional. Setelah usaha yang sedemikian besar kita saksikan baru-baru ini (penyisihan piala dunia dan putaran final Sea Games), kita tetap saja kalah dan tersingkir.

 

Menang dan kalah, kadang memang berupa keberuntungan. Dan kita sangat menghargai itu. Tetapi setidaknya ‘mental’ juga menjadi faktor penentu. Karenanya tim sepak bola kita selalu gagal disebut sebagai pahlawan. Daya juang tim kita seringkali kandas, tanpa klimaks. Kita tidak memiliki tim yang bermental baja untuk meraih dan mempertahankan kemenangan, sekaliber Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Syahrir, Soedirman, Syafruddin Prawiranegara dan lain-lain.

 

Bukan hendak membesar-besarkan atau membanding-bandingkan persoalan sepak bola di negeri ini dengan mental pejuang kemerdekaan dulu, tetapi setidaknya kenyataan dukungan yang begitu besar dari rakyat Indonesia kepada tim Garuda, tak bedanya dukungan kepada pejuang kemerdekaan.

 

Sepak bola memang tidak ada urusannya dengan kedaulatan NKRI, tetapi ‘mental’ kuat mempertahankan kedaulatan benar-benar dibutuhkan di sini.

 

Tewasnya dua orang penonton (Reno Suharto Alvino (20th), sedangkan satu orang lagi berkelamin laki-laki, tetapi belum diketahui identitasnya) dalam perhelatan final Indonesia vs Malaysia (21/11) kemarin, seharusnya menjadi perenungan yang mendalam bagi semua stakeholder persepak bolaan Indonesia.

 

Baik pengurus PSSI beserta perangkatnya di seluruh Indonesia harus serius dan bertanggung jawab menangani persoalan ini. Semangat persatuan rakyat Indonesia ‘harus’ diikuti oleh para elit dan perangkat persepak bolaan kita! Karena persoalan klasik seperti; mental dan kwalitas pemain adalah murni tanggung jawab mereka. Egoisme, politik uang dan korupsi, mutlak harus henyah dari dunia persepak bolaan kita.

 

Mari bangkit Garudaku. Kekalahan kemarin cukup menjadikan pelajaran bagi kalian. Percayalah dengan sepak bola, kami dapat menjadikan diri kalian pahlawan yang akan dikenang sepanjang masa

 

*Penulis adalah Ketua Umum Komunitas Anak Muda Cinta Indonesia

 

 

Afan Muharram

Jl. Ampera Raya, Komp. IPDN. C19 Jakarta Selatan

afanamci@yahoo.co.id / afanmuharram@yahoo.com

081218099909